Kamis, 26 September 2013

Cinta, Perenungan Akan Petualangan Hidup




Resensi Novel “Labirin Rasa”
Penulis: Eka Situmorang-Sir
Penerbit: Wahyumedia
Tahun terbit: 2013
Jumlah Halaman: vi + 394 halaman

Seringkali sesuatu yang sederhana membawa kita pada kerumitan yang tak disangka-sangka. Namun kerumitan ini dapat membawa kita lebih baik dan memahami kehidupan. Bukan hidup bila tak rumit. Karena hidup adalah jalan terjal dan butuh perjuangan untuk melewatinya. Kesan berlapis inilah yang tertangkap saat membaca novel berjudul Labirin Rasa.

Kisah novel bergulir ketika Kayla, gadis cenderung tomboy dan keras kepala, memutuskan untuk hengkang dari rumah untuk menghindari amarah papanya karena nilai kuliahnya yang menurun drastis. Kayla juga ingin menghindari pertanyaan sinis mamanya tentang pacaran, status yang belum pernah ia sandang hingga menjelang akhir kuliah. Maka dipilihlah rumah nenek sebagai pelabuhan untuk menyandarkan diri dari segala hal yang menyebalkan hatinya. Alasan Kayla sangat sederhana, nenek adalah orang kedua yang paling disayangi setelah orang tuanya dan beliau tinggal di Yogyakarta, kota yang tenang dan menyenangkan.

Sesampainya di Yogyakarta, tanpa diduga Kayla diberi oleh neneknya sebuah wasiat berupa buku dari kakeknya yang telah meninggal. Di buku tersebut, Kayla menemukan pesan kakek yang berbau ramalan tentang nasib asmaranya. Kayla yang pada awalnya membenci ramalan, menjadi mulai ragu ketika bertemu dengan Ruben, pria yang mirip dengan gambaran jodoh Kayla yang ada di pesan kakek. Kayla pun mulai bersemangat mengingat ini mungkin cinta pertama dan barangkali cinta sejatinya. Maka dimulailah perjalanan Kayla menemukan cintanya.

Ya, novel ini memang menitikberatkan pada perjalanan dan perjuangan Kayla. Pembaca diajak larut dalam pemikiran, pergolakan batin, dan apa yang dirasakan Kayla. Semua itu dilakukan penulis dengan cara yang sangat halus, sehingga sudut pandang orang ketiga yang digunakan serasa menjadi sudut pandang orang pertama karena faktor ikut merasakan. Selain itu detail penceritaan yang terasa nyata dan kejadian sehari-hari yang diangkat akan membuat pembaca bisa berkata, “Oh, kisah ini aku banget”.

Selain itu kisah novel karangan Eka Situmorang-Sir ini, sesuai dengan judulnya yang memakai kata “labirin”, membawa pembaca merenung dan berpikir tentang makna cinta dalam kehidupan. Perenungan ini terlihat dari karakter tokoh yang kuat dan lihai berfilosofi seperti saat nenek Kayla yang berkarakter bijak menasihati Kayla, “Nduk, nanti ada masanya kalau kamu tua akan ada momen-momen penyesalan bukan karena sesuatu yang kamu lakukan tapi untuk sesuatu yang tidak kamu lakukan. Memperjuangkan cintamu, misalnya.” (halaman 185).

Sayangnya, kisah yang bagus ini diawali dengan perkenalan yang cukup datar. Cerita tentang anak kabur dari rumah dan tanpa sengaja bertemu pria idaman di perjalanan merupakan awalan yang membuat novel ini sedikit “terbaca” jalan ceritanya. Tema ceritanya pun klasik, tentang menemukan cinta sejati. Akan tetapi, sang penulis cukup lihai mengembangkan tema yang sederhana ini dengan gaya menulisnya yang ringan dan mengalir. Hanya saja aliran kisah ini cukup terganggu dengan adanya beberapa kesalahan teknis pengetikan kata.

Walaupun begitu, kekurangan-kekurangan ini dapat tertutupi dengan penceritaan berbagai tempat indah yang dikunjungi Kayla. Penulis pandai dalam menceritakan adat, makanan khas, dan tempat wisata eksotik dari tempat-tempat tersebut. Keindahan penceritaan tempat ini dilengkapi dengan tampilan novel yang cantik. Sampul novel yang didominasi warna hijau segar berpadu dengan jenis font yang asyik, membuat mata betah menatap tiap paragraf. Lebih menarik dan menjadi poin tambahan dari novel ini adalah keberadaan kutipan di bawah judul tiap bab.

Akhirnya, novel ini memang berangkat dari kesederhanaan. Akan tetapi, silahkan nikmati perenungan dan pemikiran tentang rumitnya cinta dan petualangan hidup yang akan kita temui seiring terbukanya lembar demi lembar. Seperti salah satu kutipan dalam novel ini, "Life is pure adventure, and the sooner we realize that, the sooner we will be able to treat life as art - Maya Angelou (halaman 191). Serasa di labirin. 


Resensi ini diikutkan dalam Lomba Review Labirin Rasa


Minggu, 22 September 2013

Aku dan Dunia Kuis

Jujur pada awalnya aku sama sekali tidak suka sama yang namanya kuis. Dulu aku beranggapan kuis itu repot buat ngikutinnya, terlalu bersifat promosi, dan kemenangan lebih ditentukan oleh keberuntungan. Yah, walaupun setelah aku masuk dunia kuis, ternyata anggapanku itu cukup benar hehehe..,

Anggapan-anggapan awal itulah yang membuatku enggan mengikuti kuis. Aku lebih suka mengikuti lomba menulis karena memang awalnya aku suka dan ingin menjadi penulis. Berbagai lomba tulis kuikuti sejak smp. Mulai dari yang berhadiah uang besar hingga yang dijanjikan untuk diterbitkan dalam sebuah buku. Akan tetapi, hingga kini akan selesai kuliah, sekalipun aku belum pernah memenangi lomba (nasib....). Akan tetapi aku tak pernah patah arang. Terus berusaha dan berusaha.

Akan tetapi, masalah kembali muncul. Di akhir kuliah ini, aku harus mengerjakan skripsi. Tentu saja itu menyita banyak waktu. Padahal untuk memenangi sebuah lomba nulis, apalagi yang bergengsi, butuh waktu panjang untuk merenung mencari ide hingga menjadikannya sebuah tulisan. Akhirnya aku memutuskan untuk fokus pada skripsi dan meninggalkan sementara dunia lomba menulis.

Keputusanku ini tidak berlangsung lama. Aku tidak betah bila harus berhenti dari dunia lomba (jiwa kompetitifnya berkobar nih..). Akhirnya aku mencari alternatif lain, yakni mencari lomba yang tidak terlalu menyita perhatian. Perhatianku tidak langsung tertuju pada kuis secara spesifik. Perhatianku justru tertuju pada Giveaway. Ya, tanpa sengaja aku menemukan sebuah giveaway yang berhadiah imut banget. Tanpa ragu aku mengikutinya. Kebetulan giveaway ini meminta pesertanya untuk menulis juga.

Giveaway memang tidak berhadiah besar, namun hadiah yang ditawarkan justru unik dan lucu. Terutama karena giveaway biasanya bersyarat ringan dan tetap membuatku menulis. Aku pun terbenam dalam dunia giveaway.

Masalah kembali muncul, ketika periode bulan Agustus 2013, giveaway mulai jarang digelar (mungkin pada sibuk lebaran kali ya...). Namun aku pantang menyerah. Kususuri Google sampai pelosok untuk mendapat info giveaway. Hingga di suatu blog bernama anotherakuai.blogspot.com, aku mendapat sebuah pencerahan. Selain mendapat info giveaway dan lomba lain, aku menemukan sebuah alamat twitter. Sang penulis sih bilang kalau akun twitter ini berisi lomba nulis juga. Aku sebenernya sedikit ragu dan pesimis melihat judulnya yang "kuisgratis" ntu. Aku beranggapan ini pasti kuis, bukan lomba nulis.

Akhirnya, pada tanggal 30 Agustus 2013, pertama kali aku berkenalan dengan kuisgratis lewat akun twitternya. Ternyata di dalamnya berisi info yang menarik banget. Setelah menelisik lebih dalam, pandanganku pada kuis mulai berubah. Walau kuis mengandalkan keberuntungan, akan tetapi tetap perlu usaha dan kreatifitas untuk memenanginya. Apalagi banyak kuis mensyaratkan pesertanya untuk menulis. Walau pendek karena terbatas di Twitter, justru itulah tantangannya. Aku harus membuat sesuatu yang kreatif dalam kalimat yang lugas tanpa membuang kata.

Yah, inilah aku yang newbie di dunia kuis. Di malam tanggal 30 itulah, aku resmi mengikuti kuis pertama yang diinfoin ma @kuisgratis. Rasanya asyik juga, ngejar deadline, mikir kalimat yang bagus, mikir temen yang bisa diajak follow, nunggu hasil di Interaction atau DM dengan deg-degan. Aku suka semua itu. Dan aku lebih senang karena mengarunginya bersama @kuisgratis. Inilah akun yang menarikku pertama kali ke dunia yang benar-benar asyik. Infonya selalu update dan miminnya juga ramah. Lebih asyik lagi karena akun ini juga memberikan info tentang giveaway maupun lomba nulis pada umumnya. Terima kasih @kuisgratis.

Met Ultah ya @kuisgratis, ga banyak yang bisa kuberikan. Hanya ucapan terima kasih dan doa, semoga apa yang kamu lakukan membawa kebaikan pada semua.
Oh ya, tolong sabar dan bantuin aku yang newbie ini untuk temukan info-info kuis yang memukau, kreatif, dan tentu saja melibatkan kegemaranku menulis. Semangat...,  

Nb. Inilah hadiah pertamaku setelah mengikuti dunia kuis selama kurang lebih satu bulan. Pulsa 25k dari Indosat.

"@indosat: Selamat @izzoel_mu @RhmtFzi @triaswahyu1 @adrianilhamDJ @ajengkristiadi yg beruntung di kuis #MentariWorldMuslimah"

Selasa, 17 September 2013

Saat KuBerhijab

Perjuangan untuk menjadi baik memang tak mudah. Ada saja rintangan yang menghadang. Tetapi Tuhan selalu baik sama hambanya. Selalu saja ada jalan keluar. Seperti kisahku saat mulai berhijab. Awal mula yang kelihatan tak sengaja namun penuh makna.

Kisahku dimulai ketika aku lulus smp. Saat itu secara sekilas sempat terbersit niatku untuk berhijab ketika masuk sma nanti. Setelah diterima di sebuah sma negeri, aku malah bingung saat akan menjahitkan seragamku. Karena desakan untuk segera memakai seragam saat masa orientasi siswa (mos) dimulai, aku menjahitkan kain seperti model seragam smp, baju lengan pendek dan rok pendek. Ternyata pilihanku ini membawa konsekuensi ketika kegiatan belajar mengajar telah dimulai.

Guru agamaku yang bernama Bapak Radjiman merupakan guru yang terkenal lucu tapi galak. Beliau terkenal disiplin dan tidak terlalu suka pada siswi muslimah yang tidak berhijab. Kebetulan ketika itu aku suka nge-pas datang ke sekolah. Akibatnya aku selalu duduk di bangku terdepan. Akibatnya ketika pelajaran Pak Radjiman, kami sering berhadapan langsung. Seperti yang kuduga, Pak Radjiman mengingatkanku akan pakaian seragam pendek yang kupakai. Awalnya memang hanya menasehati, namun lama-lama beliau jadi suka menyindirku. Lama-lama juga aku tidak betah dan mulai khawatir. Akhirnya aku menjahitkan kain sisa seragam dan menjadikan seragamku panjang dan memutuskan membeli jilbab sekolah.

Banyak teman yang mengejekku karena aku berhijab karena takut dengan Pak Radjiman. Mereka memang benar. Alasan awal aku berhijab memang karena takut pada Pak Radjiman. Namun hidayah Alloh memang tak terduga. Entah kenapa aku merasa nyaman memakai jilbab. Tidak seperti kata orang yang sering bilang kalau berhijab itu panas dan sumpek. Aku semakin mantap berhijab.

Akan tetapi masalah selanjutnya datang dari rumah. Ibuku memertanyakan keputusanku untuk berhijab. Ibuku yang belum berhijab waktu itu menyangka kalau berhijab itu ribet. Beliau juga menganggap jilbab itu hanya untuk orang alim. Selain itu beliau menyarankanku untuk tidak "berlebihan" dalam beragama. Alasan inilah yang membuatku terbatas berhijab waktu itu.

Aku terus berusaha menyakinkan ibu. Selanjutnya ibu mengijinkan aku berhijab, namun hanya ketika kegiatan sekolah dan pengajian di kampung. Padahal aku ingin terus memakai jilbab, tidak hanya di sekolah, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Aku merasa ada yang kurang ketika tidak memakai jilbab. Apalagi saat keluar rumah, aku merasa semua orang memerhatikanku seolah ada yang salah dengan penampilanku. Rasa aman dan nyaman seakan hilang saat aku tak mengenakan jilbab. Namun aku juga tak ingin membantah ibu. Aku tak ingin berdebat karena aku sendiri juga baru belajar dan belum bisa mempertanggungjawabkan. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk sembunyi-sembunyi dulu saat berhijab.

Hingga suatu ketika, sikap sembunyi-sembunyiku ini ketahuan ibu. Di rumah aku memang belum berhijab, namun ketika aku keluar rumah, aku berusaha berhijab. Nah, saat mau ke toko, aku simpan jilbab sekolah di balik baju dan menunggu ibu tidur siang. Merasa aman aku keluarkan sepeda motor. Sampai di pintu gerbang, aku mulai mengenakan jilbabku. Dasar nasib apes, tiba-tiba ibu keluar dari pintu depan dan melihatku berhijab. Ada pandangan tidak suka dari beliau. "Halah, mau keluar sebentar aja harus pakai jilbab, apa ngga repot?" tegur ibu saat itu.

Dua tahun sudah aku mempertahankan sikapku untuk berhijab sembunyi-sembunyi. Jilbab yang kumiliki hanya ada tiga dan itu jilbab sekolah semua. Keadaan ini bertahan hingga aku kelas tiga sma. Kondisi mulai berubah saat aku sekeluarga ikut mengantarkan eyang yang mau naik haji. Ketika berangkat dari rumah ke tempat eyang, aku masih tidak mengenakan jilbab. Jilbab hanya kusimpan di tas. Hingga acara pertemuan keluarga besar dimulai. Aku keluar dengan jilbabku. Semua keluarga menatapku saat itu. Beberapa tersenyum dan yang lain biasa saja. Kebetulan keluarga besarku juga belum akrab dengan jilbab. Tetapi tanteku yang tidak berhijab bilang kalau bagus jika aku berhijab sekarang. Berkat sanjungan itu, aku bisa memakai jilbabku saat pulang dari pertemuan keluargaku.

Beberapa waktu kemudian, tiba-tiba ada jilbab berwarna gelap di lemari pakaianku. Jilbab siapa ini? Tak disangka ternyata ibu yang membelikan. Aku bahagia banget saat itu. Ternyata usahaku tidak sia-sia. Inilah jilbab pertamaku selain jilbab sekolah. Inilah tanda ibu mulai menerima keputusanku.

Aku semakin bahagia karena beberapa pekan setelah itu, ibu mendapat tugas mengajar di sma swasta Islam di mana guru di sana wajib berhijab. Kewajiban berhijab membuat ibu mencobanya. Kebiasaan beliau melihatku berhijab dan kenyamanan saat pertama memakai, membuat ibu tak lama setelah itu memutuskan untuk berhijab. Aku bersyukur sekali dengan kejadian ini.

Sekarang semua telah berubah. Jilbab telah populer dan menjadi trend tersendiri. Dulu aku selalu dipandang kuno oleh orang karena asing dengan jilbab. Sekarang jilbab begitu menarik dan beragam. Semua orang mulai biasa berhijab. Hampir semua wanita muslimah di keluarga besarku juga telah berhijab sekarang. Ibu dan aku juga semakin sering berkreasi dengan jilbab yang kami pakai. Koleksi jilbabku pun semakin banyak. Syukur Alhamdulillah.

Di akhir tulisan ini, aku ingin berterima kasih pada Pak Radjiman. Beliaulah yang menuntunku pada hidayah Alloh. Aku sangat sedih ketika beliau tak ada. Semoga beliau diterima di sisiNya. Terima kasih Pak.             

Minggu, 15 September 2013

Pisang, Penyelamat Keluargaku



Pohon pisang sangat akrab dengan keluargaku. Selain karena buahnya merupakan santapan kegemaran anggota keluarga, pohon ini pernah beberapa kali menyelamatkan adik-adikku. Dua peristiwa yang paling kuingat. Pertama, saat adik bungsuku berlatih mengendarai sepeda denganku. Adikku yang masih kelas satu SD waktu itu, mulai lancar menggenjot pedal dan mengendalikan stang sepeda. Akan tetapi, aku masih memegang sadel sepedanya agar ia tak jatuh. 

Minggu pagi, ketika berlatih di jalan kampung, aku berniat melepas peganganku. Benar saja, adikku bisa seimbangkan diri dan tak jatuh. Dia senang bukan main karena bisa mengendarai sepeda. Saking senangnya, sambil tertawa dia kayuh sepeda sekencang-kencangnya. Di sinilah hal buruk itu terjadi. Tanpa sadar adikku mendekati belokan jalan kampung yang disebelahnya ada kebun. Kecepatannya tak berkurang. Aku tak sempat menghentikannya karena jarakku cukup jauh. "Awasss...," teriakku. Terlambat, karena adikku belum bisa belok, sepeda adikku bablas nembus pinggir jalan, meloncat ke arah kebun. Bukan hanya itu, karena dia belum bisa ngerem juga, kecepatan sepeda tak berkurang. Adikku dan sepedanya meluncur deras ke arah jogangan di tengah kebun yang setauku cukup dalam. Aku panik bukan kepalang. "Aaaaa..., brukkk, "


Aku berlari menyusulnya secepat aku bisa. Saat sampai di pinggir lubang, dengan takut-takut kulihat adikku. Sepeda mungil menindih kakinya. Tapi aku heran, adikku malah senyum-senyum. Dia bilang dia tidak apa-apa. Ketika aku menolongnya dan mengangkat sepedanya, aku baru sadar kalau lubang ini tidak terlalu dalam. Setelah kulihat ke bawah, ternyata ada banyak debog yang menumpuk cukup tinggi. Batang pisang menjadikan lubang dangkal dan menciptakan landasan pendaratan yang empuk untuk adikku. Syukurlah, tidak ada luca lecet sama sekali di badannya. Coba saja lubang itu kosong, tentu adikku bisa terluka karena jatuh di tanah yang keras dan dalam. Batang pisang ini telah menolong adikku.


Berikutnya, saat adik keduaku memanen pisang di dekat rumah bersamaku dan bapak. Pohon pisang ini cukup tinggi, mungkin sekitar 3 meter. Adikku naik ke pohon karena letak pisang cukup tinggi. Sedangkan aku dan bapak di bawah berjaga jika pisang jatuh. Tandan pisang yang dipanen cukup besar, mungkin terdiri dari puluhan pisang dan pastinya sangat berat.


Dengan cepat adikku menaiki tangga kayu yang disandarkan di pohon pisang. Berbekal parang tajam, adikku sudah mencapai tandan pisang yang akan dipanen. Saat tengah asik menebang batang tandan, tiba-tiba terdengar suara derak kayu yang patah. Ternyata kayu tangga tempat adikku menapak patah. Mungkin karena menahan berat dan sudah lapuk. Seketika tangga ambruk dan adikku ikut jatuh. Untung saja, adikku masih sempat bergelantungan pada tandan pisang yang baru ia tebang tadi. 

Beberapa detik kemudian, batang tandan yang baru tertebang separo, ikut meliuk patah. Tapi adikku dan bapak sudah siap. Adik meloncat dan ditangkap bapak. Selain tangan pegal dan kaget setengah mati, selebihnya adikku baik-baik saja. Syukur masih sempat bergelantungan tandan pisang, kalau tidak pasti adikku jatuh langsung dari ketinggian 3 meter. Terima kasih tandan pisang. 
        

Sayang pohon pisang tempat adik keduaku jatuh sudah tidak ada, namun sekarang keluargaku menanam tiga pohon pisang lagi. Semoga cepat berbuah.



Sekilas tentang pisang

Pohon ini memiliki begitu banyak manfaat. Batang pohonnya bila dijejer dan diikat dengan tali dapat dijadikan rakit sederhana. Daunnya bisa dijadikan bungkus masakan seperti pepes dan obat luka bakar. Sedangkan batang daunnya, dengan sedikit kreasi, bisa dibuat pistol mainan. Jantung pisang juga bisa jadi bahan masakan. Buahnya sendiri mengandung banyak vitamin dan bermanfaat untuk mengurangi berat badan (diet), sumber tenaga, dan santapan yang baik untuk ibu hamil, penderita anemia, dan penderita maag.









Sumber referensi foto dan sekilas tentang pisang: http://kebunpisang.com/



Jogangan: tanah yang digali membentuk lubang segiempat, biasanya untuk membakar sampah

Debog: batang pohon pisang (biasanya yang sudah mati atau ditebang)

     

Sabtu, 31 Agustus 2013

Berorganisasi, Langkah Awal Menjadi Pribadi Yang Lebih Baik


Untuk menjadi pribadi yang lebih baik, tidak bisa lepas dari faktor eksternal. Faktor eksternal yang dimaksud adalah tanggapan dari orang lain. Artinya, untuk menjadi pribadi yang lebih baik, kita perlu memerhatikan penilaian orang kepada kita sebagai bahan ukuran dan evaluasi sikap kita di masyarakat. Ini menegaskan bahwa bila kita ingin menjadi pribadi yang baik dalam masyarakat, kita wajib berbuat baik kepada orang lain. Orang lain yang dimaksud dalam tulisan ini dibatasi pada tetangga dan masyarakat di daerah tempat tinggal. Karena merekalah yang terdekat dengan kita dan biasanya yang pertama tahu dan menolong bila terjadi sesuatu pada diri kita.


Dalam tulisan ini, aku ingin berbagi pengalaman pribadiku untuk menjadi pribadi yang lebih baik dalam masyarakat. Cara yang kutempuh adalah mengikuti organisasi yang ada di kampungku yang terletak di Kotagede Yogyakarta. Kebetulan organisasi yang aktif di kampungku adalah organisasi remaja masjid. Maka pucuk dicinta ulam pun tiba, berorganisasi sembari meningkatkan ibadah dan meramaikan masjid. Organisasi yang diberi nama RISMABA (Remaja Masjid Al Barokah) ini dibentuk oleh remaja di kampungku sebagai wadah bagi para generasi muda untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Selain itu organisasi ini juga dimaksudkan sebagai bentuk koordinasi untuk membantu acara yang diadakan oleh pengurus RT dan RW maupun takmir masjid.

Lima tahun sudah aku ikut aktif dalam organisasi ini. Pengalaman dan pelajaran tentu banyak kudapatkan. Salah satu yang menarik adalah pengalamanku membuat acara di Bulan Ramadhan. Beragam orang harus aku hadapi. Berbagai hambatan harus dilewati. Mulai dari menyusun proposal, meminta tanda tangan takmir, dan menanggapi saran dari para Jama’ah. Akan tetapi semua itu menarik karena aku dapat belajar bagaimana menempatkan diri dalam masyarakat.

Selain pengalaman tersebut, ada beberapa keuntungan lain yang bisa aku dapatkan ketika aku mengikuti organisasi atau perkumpulan di kampung dan semoga ini bisa menjadikan kita insan yang lebih baik nantinya. Pertama, dapet pengalaman organisasi. Pengalaman ini meliputi cara berkoordinasi dengan banyak orang, membuat acara, dan menjalankan organisasi itu sendiri. Ketiga pengalaman ini dapat melatih diri kita dalam hal kedisiplinan (rapat tepat waktu), kejujuran (berlatih jujur dalam membuat LPJ (Laporan Pertanggungjawaban), dan kesabaran (mengatasi perbedaan watak dan pendapat dari anggota yang lain).
Kedua, kita bisa bersosialisasi dengan masyarakat. Bagaimana kita bisa mendapatkan penilaian yang baik bila kita saja tidak mengenal masyarakat kampung kita? Bersosialisasi dengan masyarakat dapat membuat kita kenal dengan keadaan masyarakat kita. Kita bisa belajar mengenal tentang kebiasaan, tata pergaulan, dan adat istiadat masyarakat. Kita juga bisa tahu terhadap informasi baru berkaitan dengan lingkungan seperti ada yang sakit, menikah, atau pindah rumah.

Ketiga, setelah kita mengenal masyarakat, kita juga bisa melatih tanggung jawab dan kepedulian kita. Tanggung jawab sebagai makhluk sosial untuk membantu orang lain dan peduli terhadap kondisi lingkungan sekitar termasuk kemajuan dan kesejahteraan kampung.
Mengikuti organisasi bukanlah satu-satunya cara. Akan tetapi paling tidak, dengan ikut organisasi aku belajar untuk tidak egois dan mau belajar dari orang yang lebih senior untuk mengenal masyarakat di sekitarku. Dengan begitu, inilah salah satu langkah usaha yang bisa aku lakukan untuk menjadi lebih baik lagi.    



Tulisan ini diikutsertakan dalam First GiveAway August '13 by Dwi Puspita